Rabu, 28 Januari 2009
UJIAN
ALHAMDULILLAH UJIAN sudah lewat
hasilnya juga udah pada keluar
bersyukur itu penting
apapun hasilnya faiz yakin bahwa itu yang terbaik
Jumat, 26 Desember 2008
PUISI 3
Tidur
Faiznur Ridho
Aku tidur…
Terlelap dalm buaian kenistaan
Nyenyak dalam pesona maya dunia
Aku tidur...
Lupa untuk bangun dan membangun
Terperangkap dalam anganku
Membual dalam mimpi indahku
Aku tidur...
Terpenjara dalam kebodohan
Bersemayam di balik kegelapan
Tersendat membangun peradaban
Aku tidur
Tidur...dan tidur...
Tapi kapan aku bangun...?
Hanya cahaya-Nya yang bisa mengusik tidurku
PUISI 2
Darahku Kematiannya
(faiznur ridho)
Darahku jatuh
Hari ini ia mengalir deras
Diantara dua relung jiwa
Yang pilu dan terpaku
Nyawaku melayang
Hari ini aku telah mati
Aku telah pergi
Setelah membantai sebuah tirani
Aku telah mati
Aku telah pergi
Tapi aku berjanji
KEJAHATAN harus kubasmi
PUISI 1
Aku Pasti Menang
Faiznur Ridho
Aku bangkit…
Bangkit melawan kenistaan
Bangkit melawan kebodohan
Bangkit mengubah harga diri
Bangkit tuk berdiri sendiri
Aku bangun...
Membuka mataku yang tertutup
Membuka hatiku yang telah berlalu
Menghardik semua sifat malasku
Aku kuat....
Aku bisa....
Berdiri di atas tekad baja
Tegar di atas cinta
Kuat dalam sebuah permainan maya
Aku berani....
Berani mengorbankan nyawa
Berani meneteskan darah
Berani menghantam mereka
Aku berjuang....
Aku berperang....
Aku akan buktikan.....
Aku pantas jadi pemenang
CERPEN 2
Sepasang Cinta di Ruang Anatomi
Jam tanganku telah menunjukan pukul 07.00 WIB, aku telah tiba di ruang anatomi tepat pada waktunya. Hari ini adalah jadwal praktikum mata kuliah anatomi minggu ke-1. Aku adalah dokter agustinus.Sebagai seorang dokter pengampu mata kuliah anatomi, aku harus disiplin dan datang lebih awal daripada mahasiswaku. Walaupun praktikum mulai satu jam lagi,tak ada salahnya aku datang lebih awal. Apa kata dunia jika aku harus didahului oleh para mahasiswaku.
Praktikum berjalan dengan tertib selama beberapa jam. Lalu setelah itu, aku memberikan informasi kepada mahasiswa bahwa laporan paling lambat dikumpul mimggu depan. Aku kemudian menutup sesi praktikum ini sembari mahasiswa siap-siap pulang ke rumah masing-masing.Sementara aku tetap tinggal di laboratorium sampai selesai.
Hari semakin sore, setelah laboratorium sepi, aku memasukkan kembali mayat-mayat pada tempatnya. Satu persatu mayat itu aku masukkan. Namun, pada mayat terakhir aku meraskan sesuatu yang aneh. Aku merasa keganjilan dalam hatiku ketika harus menatapnya. Aku telah biasa melihat mayat, namun kenapa mayat ini baru kulihat sekarang? Ada sebuah rasa aneh yang menyelimuti kalbuku tentang mayat ini. Aku mengambil mayat itu,kulihat sebuah goresan luka di kepalanya, namun dadaku semakin bergetar. Suasana di ruang anatomi berubah menjadi bau yang sangat berbeda. Bukan formalin ,melainkan bau harum bunga melati yang menyengat hidungku.Aku bingung, terlebih hanya hari semakin sore dan hanya ada aku sendiri yang ada di sana.Aku berusaha melawan rasa ini dan dengan tangan yang kaku terpaksa aku berusaha mengangkat mayat ini dan memasukkannya.
***
Hujan turun dengan deras di pagi hari.Namun, hal ini tak mengurungkan niatku untuk tetap mengampu praktikum hari ini. Pekan ini adalah minggu ke-2 praktikum anatomi. Seperti biasanya, tepat pukul 07.00 WIB aku telah tiba di ruang anatomi. Namun kali ini aku merasa tidak sendiri, aku melihat seorang lelaki tua duduk di depan ruang anatomi. Aku melihatnya dan tersenyum padanya. Aku pikir dia pegawai baru, lalu aku menegurnya.
”Maaf,anda sedang apa di sini,”tanyaku padanya.
”Anda pegawai baru?”tanyaku kembali.
Lelaki tua itu hanya tersenyum melihatku. Aku memandang bola matanya yang cekung namun berisikan sebuah makna yang mendalam. Aku merasa ada pancaran kasih sayang dari dalam penglihtannya.
”Maaf, anda mendengar perkataan saya?”
”Sebentar lagi akan ada praktikum,” tambahku
”Jadi tolong kerjasamanya,”kataku lagi.
Lelaki tua itu hanya tersenyum kembali dan memperlihatkan bola matanya yang cekung namun bermakna. Ia lalu menatapku seolah-olah ingin menyampaikan sesuatu. Namun, entah mengapa ia hanya diam.
”Ah, sudahlah,”pikirku dalam hati.
Praktikum berjalan seperti biasanya.Sementara di luar sana, hujan terus turun dengan derasnya menerobos permukaan bumi. Pada saat praktikum aku mengintip ke luar untuk melihat lelaki tua tadi. Aku tak melihatnya.
Hari semakin sore, praktikum telah usai.Aku tinggal sendiri di dalam ruang anatomi. Tiba saat yang menegangkan harus dimulai. Aku kembali harus mengangkat mayat satu demi satu, namun kali ini aku bingung.Sebuah mayat yang pekan lalu aku temui kini tidak ada. Aku kemudian melihat meja dan kursi tempat menaruh mayat,namun tetap tidak ada. Lalu kubuka kembali bak penampungan dan dengan teleti kulihat kembali. Namun,apa hendak dikata semuanya nihil.
Aku lelah, akhirnya aku putuskan untuk pulang. Lalu, di depan pintu aku kembali menjumpai lelaki tadi.Aku berhenti sejenak kemudian memandang wajahnya kembali. Ia kali ini menatapku dengan wajah yang sangat tidak sedap. Namun, sebagai seseorang yang profesional, aku membalasnya dengan senyuman.
”Maaf,anda siapa?”tanyaku kembali.
”Apakah saya bisa membantu anda,”tanyaku lagi.
Lelaki itu hanya diam membisu seribu bahasa. Lalu ia menampakkan raut wajah sedih dan menunduk.Lelaki itu meneteskan air matanya.Aku semakin bingung. Ada apa di balik semua ini.Apa yang harus aku lakukan.Lalu aku mendekatinya, kemudian aku memberikan sebuah tisu padanya. Aku benar-benar bingung. Siapa ia?Kenapa ia menangis?
Hujan semakin deras, hari semakin dingin, aku semakin lelah akan semua ini. Aku kembali menatap lelaki itu, dan terus memberikan stimulus untuk memancing responnya. Namun hasilnya tetap saja nihil.Lalu, lelaki itu berdiri, dan memberikanku sebuah kertas. Aku lalu mengambilnya. Di dalamnya tertulis TOLONG, jalan melati no.4 Surabaya
Aku semakin bingung, apa ini. Lalu aku ingin menatap kembali lelaki itu.Tidak, aku tidak menemukannya.Lelaki itu hilang dari pandanganku. Aku memutarkan bola mataku untuk mencari kemana ia menghilang. Dari kejauhan, aku melihatnya berjalan menuju ruang anatomi melalui pintu selatan yang jarang sebagai pintu utama. Aku mengejarnya. Dari kejauhan aku melihat ia membuka pintu selatan ruang anatomi dan masuk. Aku terkejut, setahuku pintu itu dikunci.Namun, aku tetap mengejarnya. Setelah sampai di depan pintu, aku benar-benar bingung. Aku melihat pintu itu dikunci dengan gembok yang sangat besar. Aku mendorong pintu itu, namun tetap saja tidak bisa. Aku semakin bingung, permainan apa ini. Kenapa lelaki tua itu bisa masuk ke dalam sini?Padahal ini dikunci?Apakah ini halusinasiku saja?Ah....
***
Pekan ini adalah pekan ke-3 praktikum anatomi. Aku kembali menjadi pengampu seperti biasanya. Aku datang lebih awal untuk mencari apakah aku akan bertemu dengan lelaki tua itu. Aku menyusuri pintu selatan ruang anatomi. Aku melihat pintu masih terkunci rapat. Lalu aku berjalan menuju utara. Aku tidak menemukan lelaki itu. Aku mulai memasuki ruang anatomi. Aku membuka bak mayat dan mengeluarkannya satu persatu. Tiba-tiba dadaku bergetar kembali, sama seperti ketika pekan pertama berlangsung. Keanehan ini terjadi lagi seiring bau bunga melati yang semerbak di ruang anatomi. Lalu kutemukan mayat yang pekan ke-2 hilang. Apakah ini semua?Apakah ini ada hubungannya dengan lelaki itu?
***
Matahari telah bersinar terang, ayam jantan telah berkokok.Hari ini kuputuskan untuk menelusuri alamat yang lelaki tua itu berikan padaku. Aku akan mencoba mencari sebuah jawaban akan tanda tanya besar yang merasuk di dalam dadaku. Aku menelusuri sebuah alamat yang diwasiatkan lelaki tua itu. Aku menuju alamat yang benar –benar misterius ini.
Perjalanan ini memang aneh. Di sepanjang jalan menuju alamat ini, aku menemukan banyak hal aneh. Aku melihat orang-orang yang berpakaian serba hitam berjalan membawa bunga-bunga melati yang telah dirangkai dengan indahnya. Aku berhenti sejenak, lalu menegur orang tersebut.
”Assalamualaikum,”kataku.
Orang tersebut hanya diam, tak menjawab salamku. Dia memberikan wajah yang masam dan ditekuk. Aku mengulangi salamku.
”Assalamualaikum,” kataku kembali.
”Maaf, akhi saya boleh bertanya,”tanyaku padanya.
Pemuda itu kembali diam. Wajahnya semakin ditekuk, matanya menyorot wajahku dengan sangat tajam.
Aku terkejut. Aku bingung akan semua ini. Kenapa orang ini begitu aneh. Aku langsung saja meninggalkannya. Mobil seakan mengambil langkah seribu meninggalkan orang aneh itu.
Akhirnya aku tiba di tempat yang kutuju. Aku tiba di jalan melati 4 Surabaya. Aku segera turun dari mobilku. Aku melihat sebuah rumah tua yang sangat gelap dan ditutupi beberapa bambu yang dirangkai dengan melati putih. Aku menyentuhnya,tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku membalikkan badanku,lalu kulihat seorang wanita tua berkerudung putih tersenyum lebar padaku.
”Assalamualaikum,”katanya padaku.
”Waalaikumusalam wr wb,”jawabku.
”Maaf, nak kamu siapa?”tanyanya padaku.
”Nek, apakah benar alamat ini adalah di tempat ini,”kataku seraya menunjukkan kertas.
”Ya, benar, sepertinya nenek mengenal tulisan ini,”jawabnya.
”Kamu dapat dari mana ?”
”Seorang lelaki tua,”jawabku dengan suara rendah.
Nenek tua itu kemudian hanya diam dan tersenyum. Lalu ia mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Sepanjang aku masuk, bau melati kembali berhembus. Aku hanya menikmatinya dengan indra penghiduku.
”Silahkan duduk,”katanya padaku.
”Nek,apakah nenek hanya tinggal sendiri di sini?”tanyaku.
”Nenek hanya tinggal bersama kakek,namun ia kini hanya tinggal di dalam hati nenek,”jawabnya dengan muka sedih.
”Kakek hilang entah kemana,”jawabnya sedih.
”Apa yang terjadi,Nek?”tanyaku bingung.
”Ini semua berawal dari kampung ini,”katanya memulai.
”Awalnya di sini adalah sebuah kampung yang agamis,”katanya
”Namun, kesesatan yang dibawa aliran Melati Jiwa telah merusak semuanya,”
”Masyarakat daerah sini menjadikan rangkaian bunga melati sebagai sesembahannya.”
”Kakekmu dan nenek menentang ajaran ini,namun kami adalah kaum minoritas.”
”Kami dipasung dan dipisahkan selama beberapa tahun, kami disiksa dan diperlakukan seperti binatang.Nenek dan kakek terpisah selama dua tahun. Setelah itu kami dilepas, tapi kami hanya diberi waktu satu tahun untuk hidup, lalu kami harus dieksekusi mati. Setelah dilepas,nenek pulang dengan harapan bisa bertemu kakek, tapi kakek belum pulang. Nenek menunggu kedatangan kakek, tapi sampai detik ini kakek tak kunjung pulang”.
Aku begitu haru mendengarnya, lalu nenek itu menunjukkan sebuah foto belahan hatinya. Betapa terkejutnya aku, kakek yang dimaksud nenek adalah lelaki tua yang kutemui di depan ruang anatomi. Aku mengamatinya lagi dengan seksama, gerak-gerik air mukanya benar-benar mirip. Aku yakin, ia adalah lelaki tua yang kutemui.
”Hari ini adalah hari terakhir nenek untuk hidup, tapi kakek tak kunjung pulang,”katanya.
”Besok adalah 1 Muharram, nenek harus meninggalkan dunia ini,”jawabnya sedih.
Hari sudah semakin sore dan sebentar lagi gelap akan datang. Aku tak bisa membiarkan nenek pergi begitu saja. Akhirnya kukatakan pada nenek bahwa aku tau dimana kakek. Aku membujuk nenek untuk pergi bersamaku dan menghindar dari kematian yang tak beralasan ini. Dengan diam-diam dan rencana yang sempurna, akhirnya aku berhasil membawa nenek keluar dari kampung ini.
Hari semakin gelap,aku menuju ruang anatomi bersama nenek dengan harapan lelaki tua itu masih ada di sana.
Ruang anatomi kembali beraksi. Aku bersama nenek akhirnya tiba di pintu utara. Aku bercerita pada nenek bahwa aku bertemu kakek di sini. Lalu, aku membawa nenek masuk ke dalam ruang anatomi. Ketika aku masuk, suasana bunga melati kembali datang dan menyengat. Malam begitu dingin, mayat yang waktu itu membuatku bergetar telah tergeletak lemah di atas meja. Aku terkejut, siapa yang memindahakan mayat ini. Lalu, sang nenek dengan refkleks mendekati mayat yang wajahnya sudah tidak begitu jelas itu. Nenek merasa ada kontak bathin antara dirinya dan mayat itu. Ia terduduk dan menangis di samping mayat itu.
”Nek, ada apa dengan mayat ini?”tanyaku.
”Nenek yakin, ini adalah kakek, mayat ini kakek!”katanya sedih.
”Mayat ini memiliki luka di kepalanya,ini adalah luka kakek, bathin nenek mengatakan ini adalah kakek,”jawabnya sambil menangis.
Suasana di ruang anatomi semakin dingin, bau melati turut mewarnai heningnya malam saat itu. Nenek terus menangis di samping mayat yang misterius itu.
Aku tak kuasa menahan tangisku,lalu aku keluar ruang anatomi untuk berehat beberapa menit. Aku duduk di kursi,lalu menitikkan air mata yang tak kuasa kubendung ketika aku di dalam.Tak lama setelah itu, aku masuk kembali ke dalam ruangan. Namun, betapa terkejutnya aku. Aku melihat sang nenek tergeletak lemah di samping sang kakek. Aku mendekatinya,lalu kuraba denyut nadinya. Astagfirulahhalazim, dia telah pergi. Aku lihat wajahnya yang pucat dan membisu,lalu kutatap matanya yang membuka lalu kuusap dengan shalawat. Namun, sesuatu yang tak kuduga terjadi,tiba-tiba lampu padam dan suasana semakin gelap. Lalu,tiba-tiba ada sesuatu yang keras memukulku dari belakang.Aku terduduk dan merintih kesakitan.Beberapa menit setelah itu lampu hidup kembali.Aku semakin terkejut,nenek dan kakek kini telah hilang tanpa bekas. Aku hanya melihat sebuah rangkaian melati yang begitu indah di sana.
***
Matahari kembali bersinar,hari ini adalah minggu terkahir praktikum anatomi. Aku telah siap kembali untuk menjadi pengampu di hari yang cerah ini. Aku datang lebih awal untuk membuka bak kadaver.Aku melihat dua buah mayat yang kukenal telah siap di atas meja. Aku menatapnya,lalu aku sadar bahwa mereka adalah nenek dan kakek. Aku terkejut, tapi kali ini aku merasa puas. Aku puas telah mepertemukan dua hati yang terpisah untuk kembali menyatu. Mereka telah kembali menjadi sebuah pasangan walaupun sekarang mereka telah menjadi mayat.
Hari ini adalah tepat 1 Muharram.Tahun baru ini benar-benar berbeda.Aku merasa lebih bermakna menjadi seorang muslim. Subhanallah,sungguh Engkau luar biasa Ya ALLAH, semoga dengan kejadian ini akan memacu semangatku untuk lebih giat menjadi pengampu mata kuliah anatomi. Mungkin besok atau lusa akan ada mayat-mayat lain yang mungkin bisa aku tolong,bahkan mungkin akan ada mayat perawan yang sedang mencai jodoh.Aku hanya tersenyum dan tertawa kecil di dalam hatiku.
Suasana begitu cerah,angin berhembus dengan sejuk,lalu kucium aroma melati datang kembali menghiasi suasana hari ini. Lalu, pandanganku terarah pada sebuah sudut di ruang anatomi,aku seolah-olah melihat kakek dan nenek tersenyum padaku sambil melambaikan tangannya.
Faiznur Ridho
08/267881/KG/08334
Selasa, 23 Desember 2008
cerpenku
Si Cacat yang Tak Pernah Bohong
Sidempuan Pos,19 Agustus 2008
Margareta kembali meraih penghargaan dari Dewan Kesenian Sumatera Utara untuk yang kesepuluh kalinya.Sungguh menakjubkan, walaupunkeadaan fisiknya yang cacat dan usianya yang sudah mengijak massa senja,dia tetap saja menghasilkan karyanya yang begitu mempesona Lantas apa yang menjadi inspirasinya dalam menulis selama ini......
***
Bangsal Polonia,Lembaga Pemasyarakatan Medan, telah terbuka. Lampu-lampu telah menyala. Aku telah dudukdi sana sekitar lima menit yang lalu sambil menatap kedua tanganku. Tak lama kemudian seorang lelaki muda datang di hadapanku dan duduk bersamaku.
“Jadi sekarang coba anda ceritakan tanganmu yang cacat itu ,”katanya kepadaku.
Lelaki itu adalah Ucok, aku baru saja mengenalnya melalui telepon. Dia adalah wartawan muda profesional yang gemar memburu berita.Mungkin dia bingung melihat tanganku yang cacat, mungkin ini sangat menarik baginya, terlebih dia adalah seorang wartawan yang haus akan hal-hal yang baru dan unik. Aku hanya membalasnya dengan senyuman, lalu aku hanya diam dan tak begeming.
Aku adalah Margareta, seorang wanita asli batak yang sangat gemar menulis. Padahal aku dulu paling bodoh dalam bidang itu.Namun, karena peristiwa 20 tahu yang lalu, membuatku tersentak dan memaksaku untuk mengabadikannya dalam hidupku.
“Ayolah, ceritakan saja padaku ,”katanya padaku“Pasti itu terjadi karena kecelakaan,”tambahnya. Aku hanya diam dan memandang wajahnya.“ Cepatlah, apalagi yang kau tunggu,”desaknya padaku.
Aku lalu memandang keluar, melihat melati putih berjatuhan diiringi gemuruh angin, persis sama dengan 20 tahun yang lalu, saat aku harus merelakan kedua tanganku demi menyelamatkan buah hatiku yang kini entah dimana.
“Aku berasal dari pulau samosir,” kataku untuk memulai.
“Awalnya aku benci dengan kehidupanku yang lalu,” tambahku.
“ Tangan ini adalah satu-satunya kenangan yang tak pernah hilang dari masa itu,” kataku padanya.
Dia lalu duduk sambil melihatku dengan wajah yang ingin tahu.
“Saat itu aku masih berusia sekitar dua puluh tahun. Mungkin masih terlalu muda untuk seorang gadis pada masaa tersebut untuk menghadapi semua ini. Aku dulu dipaksa menikah oleh kedua orangtuaku dengan seorang pemuda batak berusia senja,bernama Marpaung. Aku tak mau,namun karena kedua orangtuaku memiliki hutang dengannya,maka aku harus mengikutinya.Bagiku,marpaung adalah lelaki yang kejam,keras, dan tak berhati.Dia sangat berbeda dengan Richard, kekasih yang aku cinta.
Diam-diam setelah menikah,aku masih menjalin hubungan dengan richard. Aku begitu bahagia.
Pada suatu malam, hubungan kami terbongkar,anak buah marpaung mendapatkan kami berdua di bawah kaki bukit danau toba. Aku terkejut, lalu richard berusaha melindungiku,tapi apa daya, anak buah marpaung begitu banyak dan kuat. Richard,kekasih pujaanku harus merelakan nyawanya demi melindungi aku.
Aku menangis histeris, namun tak ada yang perduli padaku,mengingat hari sudah malam dan toba sudah sepi. Aku diseret oleh mereka menuju marpaung.
“Lalu, bagaimana dengan richard?”tanya sang wartawan
“Aku tak tahu,begitu ia tewas, aku langsung diseret,”katak.u.
“Tapi, kabarnya pembunuhan richard dimanipulasi,seolah ia kecelakaan,”kataku
“Lantas,kenapa anda hanya diam,”kembali bertanya.
“Aku diancam oleh marpaung,”kataku lirih.
***
Hari-hari berlalu dengan penuh pilu,aku begitu sedih menjalani hidup dengan marpaung. Dia tak peduli dengan perasaan hatiku.Marpaung berhati baja,kerjaannya hanya bermain wanita, berjudi, dan bermabuk-mabukkan.
Kesedihanku yang semakin memuncak,tatkala aku mendapatkan diriku tengah berbadan dua.Sungguh pada saat itu aku bimbang akan kehamilan ini.Lambat-laun perutku kian membuncit,marpaung akhirnya tahu akan kehamilanku. Namun,marpaung tetaplah marpaung,awalnya ia mau menerimanya, tapi lidahnya sudah penuh dengan dusta.
Marpaung tidak ingin punya anak,ia hanya ingin menikmati keperawananku.Terlebih dia sering menyindirku apakah benar ini anaknya.Aku dapat melihat dari perlakuannnya terhadap bayiku. Marpaung ingin memisahkan aku dan anakku.
Pada suatu malam, ketika aku sedang berada di dapur untuk membuatkan anakku susu,diam-diam aku melihat marpaung membawa sebuah kotak besar dari dalam rumah. Aku curiga,lalu aku kembali ke kamar dan mendapatkan bahwa anakku sudah tidak ada.Aku tersentak langsung mengejar marpaung,lalu dari kejauhan aku melihat asap yang mengepul,aku semakin curiga,lalu dengan kaki seribu aku mendekatinya. Aku begitu terkejut,terlebih aku meihat marpaung dan antek-anteknya telah mengangkat bayiku dan hendak menceburkannya ke dalam api yang menyala. Aku langsung menghentikannya,berlalri mendekati marpaung dan hendak menarik kotak tersebut. Namun apa hendak dikata,marpaung begitu kuat,terlebih anak buahnya yang siaga. Akhirnya bayiku jatuh ke dalam api, lalu mereka terwa-tawa dan aku dengan sekuat tenaga berhasil lepas dari cengkraman anak buah marpaung.Tanpa pikir panjang,aku langsung masuk ke dalam api,tak perduli panasnya,yang ada di benakku hanyalah anakku. Aku berhasil mengangkat anakku,namun marpaung melemparkan balok api kepadaku dan anakku,aku mendekap anakknu,namun balok itu menghampiri kedua tanganku dan membakarnya.Sungguh betapa sakitnya tanganku,namun aku tak perduli.di dalam benakku hanya ada keselamatan anakku.
Marpaung tak tinggal diam,dia menendang aku sehingga membuatku jatuh tersentak di tanah.Kotak hitam yang berisi anakku langsung ditariknya dan diserahkan pada anak buahnya. Aku tak berdaya,terlebih api di tanganku semakin membuatku merintih. Aku semakin lemas. Lalu aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu.
***
Aku terbangun dan mendapatkan tubuhku di atas tempat tidur di dalam kamarku. Aku langsung bangun dan mencari dimana anakku.
Aku begitu bodoh. Tatkala aku bangun aku telah kehilangan buah hatiku. Aku mencarinya. Aku tak segan-segan melabrak seisi rumah, terutama marpaung.
“Bang, dimana anakku?”tanyaku
“Anakmu?hahaha,”jawabnya sinis.
“Anak itu telah kubuang dari kehidupan kita,”jawabnya
“Dia telah kuhanyutkan ke dalam aliran air di selatan toba,”jawabnya
Aku semakin sedih, namun entah mengapa kali ini aku tak tinggal diam, ada bisikkan emosi yang menghampiri telingaku untuk melakukan hal yang sangat di luar akal sehatku.
“Setan kau, marpaung!teriakku sambil menunjuk dan meludahi wajahnya.
“Biadab kau iblis,”geramku.
“Aku bersumpah aku tidak akan memaafkanmu,”teriakku keras.
“Hah....dasar wanita bingal,”sahutnya.
“Aku tidak akan sudi meninta maaf darimu,”sindirnya sinis.
“Ludahmu ini akan menjadi pertanda bahwa kau tidak akan lama lagi,”sahutnya.
Lalu marpaung pergi meninggalkanku,tanpa basa-basi,namun ketika hendak berbalik,aku melihat ada sebongkah balok kayu di sampingku. Aku mengambilnya dengan perlahan.Lalu dengan emosi yang tinggi, aku memukulkannya kepada marpaung. Ia tersentak, ternyata pukulanku tepat mengenai saraf yang di belakangnya.Ia terjatuh,lalu aku tak menyiakan kesempatan ini,lalu kurogoh sakuku dan kuambil sebuah gunting yang sangat tajam,aku langsung menusukkannya tepat di tubuh marpaung,lalu ia semakin meronta dan sempat ingin menghujatku,namun aku mampu menghindar,aku kembali mencabut gunting itu,kemudian menusukkannya berkali-kali pada tubuh marpaung.Tak lama setelah itu, si biadab marpaung telah tiada.
Aku begitu kalap,aku telah termakan oleh emosi yang meluap-luap.Aku tetap memegang gunting tersebut dengan nafas yang terengah-engah.
***
Alunan ketok palu hakim masih terngiang di telingaku. Aku dikenakan pasal 338 KUHP,sengaja menghilangkan nyawa orang lain. Aku begitu sedih,tapi apa hendak dikata. Aku harus menerimanya dengan lapang dada. Pasca kematian marpaung,aku harus tetap tegar menghadapi lika-liku hidupku
***
Melati kembali berguguran diiringi deru angin yang melambai. Pemuda itu masih setia mendengar ceritaku.
“Lalu,selama di penjara apakah hanya diam saja,”tanya pemuda itu. Suara pemuda itu menghampiri telingaku dan membuatku tersentak meninggalkan memori dua puluh tahun yang lalu,
“Selama di penjara,aku tak kuasa harus berbuat apa,”jawabku.
“Semua orang tak percaya ceritaku,”tambahku.
“Ayah dan ibuku telah diasingkan dan dibunuh oleh antek-antek marpaung,”kataku.
Aku kembali menangis,dan pemuda itu tampak begitu haru melihatku.
“Tangan cacat inilah menjadi saksi akan segalanya,”ujarku sambil mengusapnya.
“Aku hanya bisa menuliskan kesaksian bisu tangan ini selama aku dipenjara,”ujarku.
“Selama aku di dalam sel,aku hanya mendengar kesetian tangan ini,”tambahku.
“Kesetiannya untuk mendukungku dalam helaian kertas,”kataku semakin lemas.
Pemuda itu kembali memandang wajahku.
“Lantas apakah karya besar anda selama ini adalah kesaksian tangan ini,?”tanya lagi.
“Ya,semua karyaku yang selama ini adalah hasil kesaksian tangan cacatku ini,”sambil ,emggenggam tanganku.
“Tangan ini menuntunku untuk terus berkarya,”jawabku lantang.
“Sebuah karya yang dapat membuka mata dunia akan kejamnya sebuah peradaban.”
“Lantas, apa harapan anda dengan karya yang anda hasilkan selama ini,”tanya pemuda itu lagi.
“Aku mengharapkan agar kejadian yang aku alami tidak terulang lagi.”
“Si cacat ini tak bisa membebaskanku.”
“Namun,aku berharap semoga ia bisa terus menjadi inspirasi untuk terbukanya sebuah keadilan dalam curangnya sebuah kehidupan.”
“Lalu bagaimana dengan anak anda,” tanya pemuda itu lagi.
“Itu semua nihil,”kataku sambil menunduk dan kembali menitikkan air mata.
Pemuda itu memandang wajahku dengan tulus,lalu ia menitikkan air mata,seakan melihat cahaya kasih sayang seorang ibu. Ia lalu bangkit dari kursinya.
Aku hanya tersenyum,lalu pemuda itu bersalaman denganku.
“Baiklah,saya begitu tersentuh mendengar cerita anda, semoga tangan itu kelak dapat mempertemukan anda dengan buah hati anda,”ungkapnya dengan lirih.
“Teruslah berkarya dan Semoga anda bisa meraih kebahagian dalam hidup anda,”
Pemuda itu lalu pamit dan meninggalkan ruangan. Namun sepanjang perjalanan keluar,margareta memandangnya sambil berandai-andai.Seandainya anaknya masih hidup,mungkin dia telah sebesar ucok.Margaret kembali bangkit,ia merasakan suatu kontak batin ketika pemuda tadi hendak meninggalkannya.Margaret,tak tahu apa yang terjadi di lubuk hatinya. Dia hanya bisa pasrah akan semua ini.
Sementara di balik ruang polonia, pemuda tersebut menitikkan kembali air matanya.Ada rasa sedih yang mendalam terbesit di wajahnya. Ada getaran aneh dalam dirinya seakan mendapatkan hangatnya kasih sayang seorang ibu yang tak pernah ia dapatkan dalam hidupnya selama ini.
Yogyakarta,10 Zulhijjah 1429 H
Faiznur Ridho
08/267881/KG/8334
